Janggut Sayyidina Utsman Selalu Basah Ketika Melewati Kuburan

Diposting pada

Ketika melewati pemakaman Baqi di Madinah, Sayyidina Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu selalu tak kuasa untuk membendung air matanya. Hani’, sahaya Utsman, paham betul bahwa bukan kali ini saja Sayyidina Utsman menangis sehingga membuat janggutnya basah. Setiap kali melewati pekuburan, Utsman selalu begitu. Bahkan ketika disebutkan tentang kubur pun, matanya tiba-tiba mendadak sembab.

Pemakaman Baqi Madinah
Pemakaman Baqi Madinah

“Engkau menyebut surga dan neraka tapi engkau tidak menangis, Namun jika menyebut kubur dan berjalan di sekitarnya engkau selalu menangis, kenapa bisa begitu?”

Akhirnya pertanyaan itu terucap juga dari lisan Hani’. Beruntunglah kita, berkat pertanyaan itu kita mendapatkan hikmah yang sangat berharga dan nasehat penyucian hati dari Sayyidina Utsman.

“Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, ‘kuburan adalah tempat pertama dari beberapa tempat di akhirat. Jika selamat darinya, maka mudahlah jalan kita selanjutnya. Jika tidak, selanjutnya adalah adzab yang lebih mengerikan.’ Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menyeramkan daripada kuburan,” jawab Ustman bin Affan.

Seperti itulah bagaimana Sayyidina Utsman melihat kuburan. Dan demikianlah ketaqwaannya. Walaupun beliau sudah dijamin masuk syurga, namun tetap saja beliau tak merasa aman dari alam barzakh.

Lalu bagaimana dengan kita? Kita begitu abai terhadap alam kubur seakan-akan kita tidak akan pernah dikubur selama-lamanya. Seakan-akan kita tidak akan pernah terbaring sendirian di kegelapan perut bumi. Seakan-akan kita tidak akan pernah didatangi dua malaikat yang menanyakan siapa Rabb kita, lalu jika kita tak mampu menjawabnya malaikat tersebut akan menyiksa kita.

Seakan-akan kita tidak akan pernah hidup di alam barzah kecuali beberapa saat saja. Padahal kita sudah tahu, bahwa ada orang yang telah berabad-abad di alam kubur dan belum juga tiba kiamat sampai sekarang.

Itu artinya, nikmat atau azab kubur yang diterimanya disana sangat panjang waktunya. Dan seperti sabda Nabi Muhammad SAW, jika kita selamat di alam qubur, maka selamat pula di akhirat. Jika diazab di alam kubur, maka azab yang jauh lebih pedih telah menanti di neraka. Na’udzubillah min dzalik.

Alkisah, ada seorang laki-laki yang tinggal di rumah sendiri karena istrinya menemani anak-anak berlibur ke rumah nenek. Kebetulan laki-laki tersebut belum bisa meninggalkan pekerjaannya. Tiba-tiba ia disergap kesepian. Kemudian, ia jatuh sakit dan HP-nya hilang. Ia pun tak bisa ke mana-mana, ia tak bisa berkomunikasi dengan siapa-siapa. Meskipun hanya 3 hari, ia merasa telah menderita selama 3 bulan. Sebab kesendirian menghadapi penderitaan adalah siksaan yang sangat mengerikan.

Lalu bagaimana dengan kesendirian di alam kubur yang bukan hanya 3 hari? Bisa jadi 3 abad atau bahkan 3 millenium? Sungguh kesedihan yang abadi jika tak mendapat ampunan ilahi. Karenanya ada ulama yang berpendapat bahwa siksa kubur jauh lebih mengerikan daripada azab neraka. Ketika ditanya alasannya, ia pun menjawab: “Di neraka, manusia diazab bersama-sama. Di alam kubur, manusia diazab dalam kesendirian.”

Loading...